28 May 2013

I Depend on Me?

Nama Miss Mondial rasanya memang tidak bisa dilepaskan dari moto ‘I Depend on Me!’ Berhubung saya memang wanita karier yang agak condong ke workaholisme (ngomong-ngomong, ternyata ada lho padanan resmi untuk ‘workaholic’ dalam bahasa Indonesia: karusi) saya memang bisa mengapresiasi slogan yang satu ini. Punya pekerjaan dengan gaji lumayan dan yang memang bisa kita kerjakan dengan baik jelas rasanya sangat empowering. Tapi, intinya di sini bukan hanya tentang wanita modern yang independen, tapi lebih ke arah menjadi figur dewasa yang bisa diandalkan…

Memang, menjadi sosok independen (termasuk, tentunya, yang mandiri secara finansial) adalah tujuan yang layak dikejar. Perjuangan untuk sampai ke posisi bisa membayar tagihan-tagihan rutin saya sendiri sempat makan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, dan setelah sekarang bisa sesekali memanjakan diri dengan hasil jerih payah sendiri rasanya sangat memuaskan. Tapi, lebih dari semua itu, yang benar-benar berarti untuk saya adalah kemajuan saya menjadi individu yang bisa diandalkan. Sebagian jelas dipicu dari langkah saya memasuki dunia kerja. Kalau saya tidak bisa diandalkan oleh kolega-kolega saya, jelas karier saya tidak akan ke mana-mana, toh? Sebagian lagi tumbuh menjadi kesadaran bahwa satu figur yang paling bisa saya andalkan adalah diri saya sendiri, bahkan untuk hal-hal kecil seperti merayakan selesainya proyek yang ekstra menantang dengan sekotak cupcake

Satu hal lagi yang saya sadari adalah bahwa sosok wanita ‘I Depend on Me’ tidak melulu soal karier yang sukses. Coba saja lihat para ibu rumah tangga yang seharian di rumah. Rasanya kecuali si ibu RT punya pasukan pembantu, dia itu harus bisa jadi koki, pencuci baju, petugas kebersihan, sekaligus babysitter. Selain itu, ibu RT ini juga akan menjadi manajer umum keluarga, direktur keuangan, ekonom rumah tangga, kepala bidang pelatihan (termasuk mengajari anak menggunakan toilet dan mengajari suaminya menurunkan tutup toilet setelah selesai menggunakan), teknisi rumah, pengawas logistik, sekaligus tenaga pembimbing. Tambah lagi, ibu rumah tangga ini juga bekerja sebagai sekretaris dirinya sendiri, dan mungkin sebagai asisten eksekutif suaminya. Bisa saja ada yang berargumen bahwa sesuai artinya, yang namanya ibu rumah tangga itu tidak bisa independen dari rumah dan keluarganya. Tapi kalau kita abaikan sebentar urusan semantiknya, ibu RT yang ‘membosankan’ itu jelas adalah salah satu teladan keandalan… setuju?

FROM ARCHIVES

ARCHIVES

January 2017
view more
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • August 2013
  • September 2013
  • February 2014
  • March 2014
  • April 2014
  • May 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • September 2014
  • February 2015
  • March 2015
  • April 2015
  • May 2015
  • June 2015
  • July 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • Buying a new diamond ring (or any kind of diamond jewelry ...
  • As the colder season starts in earnest one particular style ...
  • Everybody wants beautiful and also healthy nails And like so ...
  • We’ve seen a lot of bold cosmetics on this year’s fall/winter ...