29 May 2013

CV dan Surat Lamaran

Jauh sebelum saya menjadi wanita karier yang sukses seperti sekarang (kalau saya bukan wanita karier yang tidak sukses, artinya boleh mengaku diri sukses kan? ^^), perjalanan saya dimulai sama seperti praktis semua lulusan baru. Jadi ada masanya saya rajin mencari iklan lowongan kerja di Web dan koran, pergi ke acara bursa kerja, dan mengirim entah berapa lusin surat lamaran.

Berhubung saya memang sudah punya hobi menulis sejak jaman SMA, untuk saya menulis curriculum vitae itu tantangan yang cukup menyenangkan. Akhirnya tak sedikit juga teman-teman saya yang meminta saya mengedit atau menyusun CV mereka—malah sebenarnya sampai sekarang saya masih suka dimintai tolong untuk urusan ‘touch up’ CV rekan-rekan saya. Tapi setelah sempat bekerja di beberapa perusahaan, saya mulai belajar melihat juga bagaimana cara kalangan perekrut melihat CV. Saya juga mulai sering ngobrol dengan orang-orang HRD, saya mulai lebih rajin membaca artikel soal rekrutmen dan lamaran kerja, dan saya juga mulai mengintip lamaran yang masuk ke tempat kerja saya—sambil memperhatikan mana yang dibaca dan mana yang biasanya langsung dibuang. Kesimpulan-kesimpulan yang bisa saya ambil lumayan menarik, jadi berikut ini beberapa temuan yang menurut saya cukup penting seputar tulis-menulis CV yang ideal…

Setiap surat lamaran dan riwayat hidup sebaiknya ‘dirancang’ khusus untuk posisi yang diincar; yang juga berarti bahwa pelamar harus rela meneliti dulu perusahaan yang ingin dilamar, setidaknya via Google lah. Intinya, si lamaran harus relevan dengan si perusahaan. Dan satu hal yang harus dihindari: mengirim e-mail massal ke sekian perusahaan sekaligus.

CV jangan terlalu panjang. Bayangkan saja kalau seorang staf HRD harus memilah beberapa lusin lamaran, CV yang sepanjang novel jelas bakal dilewat. Jadi, usahakan singkat, padat, jelas.

Kalau bisa, hindari istilah-istilah trendi seperti ‘bisa bekerja sama dalam tim’, ‘mampu bekerja di bawah tekanan’, ‘pekerja keras’, dll. Kenyataannya, tidak semua staf rekrutmen suka mendengar frase seperti itu. Ada benarnya juga sih—kalau kita memang bisa bekerja sama dalam tim, ya harusnya yang punya pendapat seperti itu orang-orang yang pernah satu tim dengan kita, toh? Jadi, biarkan riwayat pengalaman kita saja yang angkat bicara.

Hati-hati juga ketika memuji perusahaan yang dilamar. Sebenarnya boleh dibilang memang ada anggapan kalau dalam surat lamaran sudah sewajarnya si pelamar menulis tentang, katakanlah, bahwa dia merasa sangat antusias ingin bergabung dengan sebuah perusahaan, atau misalnya bahwa dia merasa perusahaan yang dilamar adalah yang terbaik dalam industrinya. Tapi sebaliknya, ekspresi seperti ini bisa dengan mudah melantur ke arah muluk dan berlebihan. Jadi untuk amannya, jangan jauh-jauh dari nada formal.

Sebenarnya masih banyak ‘insider tips’ seputar menyusun lamaran yang sempurna, termasuk pendekatan yang cukup beda untuk menulis riwayat hidup kandidat manajer senior. Tapi rasanya topik-topik lanjutan seperti ini diulas oleh orang-orang yang memang pakar HRM. Sementara itu, CV saya sendiri rasanya tidak akan diutak-atik dalam waktu dekat, berhubung toh saat ini saya sudah menemukan pekerjaan yang cukup stabil. Tapi, rasanya belum lengkap sharing soal CV kalau tidak dilanjutkan ke jenjang wawancara, kan? Jadi, tunggu saja post berikutnya… ^^

FROM ARCHIVES

ARCHIVES

January 2017
view more
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • August 2013
  • September 2013
  • February 2014
  • March 2014
  • April 2014
  • May 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • September 2014
  • February 2015
  • March 2015
  • April 2015
  • May 2015
  • June 2015
  • July 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • Buying a new diamond ring (or any kind of diamond jewelry ...
  • As the colder season starts in earnest one particular style ...
  • Everybody wants beautiful and also healthy nails And like so ...
  • We’ve seen a lot of bold cosmetics on this year’s fall/winter ...