Seperti yang saya singgung di post sebelumnya, mengutak-atik CV itu sempat jadi salah satu hobi saya. Jadi, biasanya saya cukup percaya diri kalau mengirimkan lamaran kerja. Lain halnya kalau sudah urusan wawancara. Jelas karier saya bahkan tidak akan mulai kalau saya tidak bisa melalui tahap wawancara… tapi sejujurnya sih, saya belum pernah menjalani wawancara tanpa keringat dingin, jantung berdebar, dan perut yang terasa amburadul.

Sama seperti bagaimana saya mulai belajar melihat lamaran kerja dari sisi ‘orang dalam’, ada banyak hal seputar wawancara kerja yang baru saya ketahui setelah memasuki dunia kerja. Sekali lagi, saya cukup beruntung karena sering bisa ngobrol dengan personel HRD, saya juga banyak mendengar ‘kisah perang’ kolega saya, dan saya bahkan sempat beberapa kali ikut nimbrung saat ada calon rekrutan baru yang diwawancarai di kantor.

Nah, jadi, saya terpikir untuk sharing sedikit mengenai temuan-temuan saya di arena wawancara…

Matikan HP. Serius lho. Meski rasanya mematikan HP saat wawancara itu harusnya sudah sangat, sangat jelas, saya pernah beberapa kali melihat langsung kasus pelamar veteran yang jelas sudah banyak makan asam garam di dunia karier dan memiliki daftar pencapaian yang benar-benar ‘Wah!’, tapi malah harus tergesa-gesa merogoh saku untuk mematikan HP yang berbunyi di tengah wawancara. Jelas kubu pewawancaranya lumayan kesal… ^^

Jangan tanyakan apa yang akan perusahaan berikan kepadamu, tapi apa yang bisa kamu berikan kepada perusahaan. Saat diwawancara kemudian diberi kesempatan bertanya, kebanyakan calon karyawan menanyakan soal tunjangan, jam kerja, cuti, atau jenjang karier. Tapi, kalau kita mau membuat pewawancaranya terkesan, coba tanyakan cakupan tugas posisi yang kita lamar, aktivitas sehari-hari karyawan dalam posisi itu kira-kira seperti apa, proyek seperti apa saja yang mungkin akan kita kerjakan, dll. Dengan menanyakan hal-hal seperti itu, bisa timbul kesan bahwa pikiran kita tidak melulu ke arah ingin ‘digaji’ tapi juga ke arah mau ‘bekerja’.

Hati-hati jebakan gaji. Untuk kebanyakan orang, pertanyaan seputar gaji adalah isu paling sensitif dalam wawancara. Tapi ada triknya lho. Pertama-tama, biarkan si pewawancara yang memulai diskusi soal gaji. Setelah ditanya mengenai gaji yang diharapkan, salah satu opsi jawaban yang cukup efektif adalah bahwa kita ingin digaji sesuai dengan tanggung jawab yang akan kita emban dan dengan kontribusi apa saja yang diharapkan dari (calon) posisi kita. Respons seperti ini bukan hanya diplomatis, tapi juga menunjukkan bahwa kita bisa memikirkan kepentingan perusahaan, dan bukan hanya soal isi dompet kita nantinya. Saya pribadi cukup suka dengan pendekatan ini… tapi terutama karena skill tawar-menawar saya biasanya drop ke nol kalau saya sedang gugup.

Kalau tidak bisa menjawab, ya jujur saja. Bingung karena tidak bisa menemukan jawaban yang ‘benar’ untuk pertanyaan dari pewawancara? Bilang saja ‘tidak tahu’. Memang mengaku tidak bisa menjawab kesannya tidak impresif, tapi masih jauh lebih baik daripada kalau kita terlihat kebingungan seperti anak SD saat ulangan matematika.

Rasanya masih banyak lagi intrik-intrik wawancara kerja selain empat poin ini, tapi memang ini topik-topik yang sempat saya dalami cukup lama. Jadi, saya cukup yakin untuk men-share-nya dengan teman-teman saya, kolega, dan kini, dengan Anda semua… ^^

FROM ARCHIVES

ARCHIVES

January 2017
view more
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • August 2013
  • September 2013
  • February 2014
  • March 2014
  • April 2014
  • May 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • September 2014
  • February 2015
  • March 2015
  • April 2015
  • May 2015
  • June 2015
  • July 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • Buying a new diamond ring (or any kind of diamond jewelry ...
  • As the colder season starts in earnest one particular style ...
  • Everybody wants beautiful and also healthy nails And like so ...
  • We’ve seen a lot of bold cosmetics on this year’s fall/winter ...