Saya suka pekerjaan saya, saya cinta mati pada rekan-rekan kerja saya (tentunya ada satu dua perkecualian… ^^), saya bisa menolerir bos yang paling galak sekalipun—tapi ada satu hal yang saya benci: politik kantor. Atau tepatnya, saya masih belum bisa paham perlunya politik kantor.

Oh, kalau soal kenapa ada yang namanya politik kantor saya bisa mengerti. Ada orang-orang yang memang punya tekad untuk menaiki tangga karier secepat mungkin, dan yang seperti ini bisa saya apresiasi. Ada juga yang benar-benar peduli pada keputusan-keputusan di kantor, dan karena itu ingin terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Sekali lagi, kalau yang ini sih bisa saya mengerti. Sekian tim berebut bagian anggaran yang terbatas tampaknya juga bisa menyebabkan munculnya kubu-kubu yang berlawanan.

Yang masih belum saya pahami itu kenapa ada orang-orang yang bisa benar-benar terbawa arus politik di tempat kerja, bahkan kalau ujung-ujungnya malah menghambat pekerjaan atau mengganggu relasi.

Mungkin pandangan saya seperti ini karena pekerjaan saya cenderung teknis. Misalnya saja, salah satu proyek yang sering saya tangani adalah mengedit katalog produk; biasanya saya ‘berburu’ salah ketik dan tata bahasa yang salah, atau terkadang menyesuaikan gaya penulisan keseluruhannya. Pekerjaan ini cukup penting, tapi hal-hal seperti penulisan “di kantor” vs. “dikantor” bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan debat. Dan kalaupun ada hal-hal yang lebih subjektif, seperti gaya penulisan katalognya, yang jadi penentu itu pertimbangan-pertimbangan objektif seperti demografi konsumen. Alhasil, kalaupun mau diperdebatkan, biasanya tidak personal.

Jadi, ketika ada perebutan posisi atau konflik kepentingan muncul di kantor, saya jarang ikut terseret. Dan jujurnya sih, saya memang lebih suka seperti ini. Pada dasarnya saya berusaha untuk bersikap netral, supaya siapa saja bisa dengan mudah bekerja bersama saya, konsultasi dengan saya, menugaskan proyek atau tanggung jawab pada saya, atau sekedar ngobrol dengan saya. Terdengar agak naif atau mengawang-awang? Yah, kan kata orang juga ignorance is bliss

Dan bagaimanapun juga, saya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan kolega dari semua ‘partai’ dan jenjang. Saya siap ikut terlibat dengan tim mana saja, saya berusaha sering membantu junior maupun atasan untuk hal-hal seperti mengedit CV atau surat resmi. Tapi yang lebih penting lagi, saya juga berusaha tidak menimbulkan kesan negatif—saya berusaha tidak terbawa oleh konflik pribadi, saya tidak (terlalu sering) bergosip ria, saya mencoba menjaga sikap profesional kalau dikritik, dan saya juga mencoba tidak berkeluh kesah kalau situasi sedang tidak menyenangkan. Sebaliknya, saya juga berusaha ‘cari aman’, misalnya dengan selalu berasumsi bahwa apa saja yang saya katakan bisa saja beredar ke seluruh kantor.

Harus diakui, politik kantor rasanya memang sudah jadi realita kehidupan. Tapi bahwa saya tidak mau ikut-ikutan, nah itu juga realita kehidupan… ^^

FROM ARCHIVES

ARCHIVES

January 2017
view more
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • August 2013
  • September 2013
  • February 2014
  • March 2014
  • April 2014
  • May 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • September 2014
  • February 2015
  • March 2015
  • April 2015
  • May 2015
  • June 2015
  • July 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • Buying a new diamond ring (or any kind of diamond jewelry ...
  • As the colder season starts in earnest one particular style ...
  • Everybody wants beautiful and also healthy nails And like so ...
  • We’ve seen a lot of bold cosmetics on this year’s fall/winter ...