comment(s)

Beberapa bulan lalu, saya menemukan sebuah hobi baru. Tidak butuh banyak waktu, tidak makan biaya besar, membantu relaksasi, dan konon sehat walaupun bukan itu yang saya incar. Jelas dari bocoran gambar di atas, hobi baru saya adalah minum teh… :)

Yang pasti, kegemaran baru saya ini hanya sebatas hobi ringan; saya jelas tidak punya waktu untuk mempelajari upacara minum teh yang formal, saya juga tidak ingin menjadi pakar adiboga teh , dan saya juga tidak tertarik belajar soal tipe-tipe blend, infusion, dan grade teh—semua itu rasanya jauh terlalu rumit untuk saya. Apalagi tanpa belajar tentang semua tipe teh serius tidak menjadi penghalang bagi saya untuk mencoba-coba mencari racikan ala saya sendiri.

Jadi yang saya lakukan adalah pergi ke supermarket (yang agak kelas atas sih) dan di sana saya memilih beberapa (atau lebih dari hanya beberapa; tergantung isi kantong) bungkus teh yang berbeda. Biasanya saya akan mencoba sekian merek dan juga sekian rasa dan infusion. Sesampainya di rumah, saya menggelar eksperimen campur-mencampur. Saya cukup yakin bahwa ada seni atau ilmu dengan beribu pakem seputar mencampur teh, tapi untuk rutinitas ngeteh harian, saya mencoba apapun yang terpikir.

Ingin tahu favorit saya (sejauh ini) apa saja?

Teh vanila; cocok dengan susu, apalagi kalau hangat.

Teh mint bisa dicampur dengan kebanyakan teh rasa buah maupun teh hitam, dan enaknya diminum dingin.

Infusion lemon yang halus bisa menambahkan sentuhan tambahan untuk es teh (hitam) manis, tapi ada juga beberapa teh dengan campuran berbagai buah dari keluarga jeruk yang lebih enak diminum hangat, apalagi kalau sedang pilek.

Aroma infusion markisa biasanya sangat halus (setidaknya saya belum ketemu yang rasanya kuat). Jadi untuk teh markisa saya gunakan dua kantong teh per cangkir, atau saya gabungkan dengan teh rasa lain (lemon dan mint lumayan cocok).

Kembang sepatu dan mixed berries; nah yang ini agak tidak biasa, kan? Tapi ternyata sangat enak, walaupun agak sedikit asam kalau untuk saya, jadi sering saya campur dengan teh hitam.

Matcha dan teh merah Sri Lanka dalam bentuk bubuk jelas harus diseduh dengan air panas tanpa tambahan apa-apa.

Rencananya, saya juga akan mulai bereksperimen dengan teh whole leaf. Kalau teh di dalam kantong teh kan jelas terlihat sudah ditumbuk. Nah itu yang (kalau tidak salah) disebut teh ‘broken leaf’, jadi rasanya varian ‘whole leaf’ adalah yang selain kantong teh dan masih jelas terlihat berbentuk daun.

Hal terpenting yang saya pelajari adalah bahwa untuk benar-benar menikmati rasa dan aroma khas dari jenis-jenis dan campuran teh yang berbeda, saya harus santai, rileks, dan perlahan-lahan mencoba menikmati nuansa halus di balik rasa dan aroma yang muncul saat tehnya diseduh. Sebenarnya saya tidak begitu paham tentang manfaat kesehatan dari hobi baru saya ini, tapi bersantai di rumah, mungkin setengah jam saja sehari, dengan secangkir teh aroma kembang sepatu yang masih hangat atau segelas es teh mint jelas ‘sehat’ untuk mood saya…

FROM ARCHIVES

ARCHIVES

January 2017
view more
  • May 2013
  • June 2013
  • July 2013
  • August 2013
  • September 2013
  • February 2014
  • March 2014
  • April 2014
  • May 2014
  • June 2014
  • July 2014
  • August 2014
  • September 2014
  • February 2015
  • March 2015
  • April 2015
  • May 2015
  • June 2015
  • July 2015
  • August 2015
  • September 2015
  • Buying a new diamond ring (or any kind of diamond jewelry ...
  • As the colder season starts in earnest one particular style ...
  • Everybody wants beautiful and also healthy nails And like so ...
  • We’ve seen a lot of bold cosmetics on this year’s fall/winter ...